Seorang pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengkritik keterlibatan kampus dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, universitas seharusnya tidak mengurus program tersebut karena dapat mempertanyakan independensi akademisi.
Kritik Terhadap Keterlibatan Kampus
Pakar UGM tersebut menyatakan bahwa tugas utama kampus adalah pendidikan dan penelitian, bukan mengelola program pemerintah seperti MBG. Ia khawatir hal ini dapat mengaburkan peran universitas sebagai lembaga independen.
Dampak pada Independensi Akademisi
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keterlibatan dalam program politik dapat mempengaruhi objektivitas akademisi. "Kampus harus menjaga jarak dari kepentingan politik praktis," ujarnya.
- Program MBG dinilai lebih tepat dikelola oleh lembaga pemerintah atau swasta.
- Universitas sebaiknya fokus pada riset dan pengembangan ilmu pengetahuan.
- Independensi akademisi adalah aset berharga yang harus dijaga.
Pernyataan ini memicu diskusi di kalangan akademisi dan masyarakat. Beberapa pihak setuju, namun ada juga yang menilai kampus bisa berperan dalam program sosial.
Reaksi dari Berbagai Pihak
Rektor UGM belum memberikan tanggapan resmi. Namun, sejumlah dosen dan mahasiswa mendukung pernyataan tersebut. Mereka berharap universitas tetap netral dan tidak terlibat dalam program yang berpotensi politis.
- Kritik ini muncul di tengah pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
- Program ini bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah.
- Namun, pelibatan kampus dinilai kurang tepat.
Pakar UGM menegaskan bahwa akademisi harus bebas dari tekanan politik. "Kami harus bisa mengkritik kebijakan tanpa takut kehilangan posisi," tegasnya. Hal ini penting untuk menjaga kredibilitas universitas.



