Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Kian Dekat, Analisis Hikmahanto Juwana
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah berada dalam posisi yang sangat dekat untuk mencapai kesepakatan perdamaian. Pernyataan ini disampaikan Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Jumat (17/4/2026), yang kemudian dikutip oleh media internasional seperti AFP dan Al Arabiya.
Trump menegaskan bahwa Teheran telah menyetujui untuk menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya, sementara kedua negara mempertimbangkan untuk melanjutkan pembicaraan lebih lanjut di Islamabad, Pakistan. Dia bahkan menyatakan kemungkinan untuk pergi ke Pakistan guna menandatangani kesepakatan tersebut jika memang terwujud.
Analisis Kritis dari Hikmahanto Juwana
Guru besar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, memberikan tanggapan kritis terhadap klaim Trump ini. Dalam wawancara pada Sabtu (18/4/2026), Hikmahanto mengingatkan agar publik tidak terlalu percaya dengan pernyataan Trump, mengingat sejarahnya yang sering berubah-ubah dalam kebijakan luar negeri.
Hikmahanto menyoroti bahwa isu pengembangan senjata nuklir dan pengayaan uranium tetap menjadi perhatian utama dalam negosiasi ini. Dia menjelaskan bahwa Iran sebenarnya telah menunjukkan kesediaan untuk tidak mengembangkan senjata nuklir sejak sebelum perang, namun masalahnya terletak pada uranium yang sudah diperkaya.
"Rusia sudah bersedia untuk menerima uranium Iran, tetapi Trump tidak mau jika Rusia yang terlibat," kata Hikmahanto. "Tinggal sekarang tergantung pada keinginan Trump. Jika ada kesepakatan antara Trump dan Iran, maka memang kesepakatan damai semakin dekat," tambahnya.
Hambatan dari Israel dan Reaksi Iran
Selain masalah uranium, Hikmahanto juga mengidentifikasi hambatan lain yang dapat menjauhkan kesepakatan damai, yaitu sabotase dari Israel. Dia memperingatkan bahwa jika Israel terus melakukan serangan terhadap kelompok seperti Hezbullah, Hutti, atau Hamas, Iran pasti akan memberikan reaksi balik.
"Kalau Israel melakukan serangan, ini tidak akan membuat situasi semakin dekat. Pasti ada reaksi dari Iran," tegas Hikmahanto. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika regional di Timur Tengah tetap menjadi faktor krusial yang dapat mempengaruhi proses perdamaian antara AS dan Iran.
Langkah-Langkah ke Depan dan Kemungkinan Penandatanganan
Trump dalam pernyataannya menekankan pentingnya memastikan bahwa Iran tidak akan pernah mendapatkan senjata nuklir, dan mengklaim bahwa Iran telah menyetujui hampir semua poin dalam negosiasi. Namun, dia mengakui bahwa masih ada perbedaan yang perlu diselesaikan dalam meja perundingan.
Ketika ditanya tentang kemungkinan perjalanannya ke Pakistan untuk menandatangani kesepakatan, Trump menjawab, "Saya mungkin akan pergi, ya. Jika kesepakatan itu ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi." Pernyataan ini menambah spekulasi tentang lokasi dan waktu penandatanganan kesepakatan damai yang dinantikan.
Secara keseluruhan, meskipun Trump optimis, analisis dari Hikmahanto Juwana mengingatkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai AS-Iran masih dipenuhi dengan tantangan kompleks, termasuk isu uranium, peran negara ketiga seperti Rusia, dan dinamika konflik regional yang melibatkan Israel.



