Lebih dari 10.000 rumah di Lebanon telah hancur sejak gencatan senjata dalam perang antara Israel dan Hizbullah. Hal ini diungkap oleh Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah Lebanon (CRNS) pada hari Rabu.
Data Kerusakan Rumah
Kepala CRNS, Chadi Abdallah, dalam konferensi pers yang disiarkan media lokal mengatakan, "Sejak gencatan senjata saat ini... kami telah menyaksikan 5.386 unit rumah yang hancur total, dan 5.246 unit rumah yang rusak." Pernyataan ini dilansir AFP pada Kamis (14/5/2026).
Pelanggaran Gencatan Senjata
Israel terus melakukan serangan udara besar-besaran meskipun ada gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April. Tentara Israel juga beroperasi di dalam "garis kuning" yang dinyatakan Israel, membentang sekitar 10 kilometer di utara perbatasan Israel-Lebanon.
Korban Jiwa Akibat Serangan
Sebelumnya, serangan Israel menghantam wilayah Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sebanyak 13 orang tewas. Menurut laporan AFP pada Rabu (13/5), korban tewas meliputi seorang tentara, seorang anak, dan dua petugas penyelamat.
"Serangan di kota Nabatieh menewaskan lima orang, termasuk dua petugas penyelamat Pertahanan Sipil," kata kementerian tersebut.
Serangan lain di sekitar Jebchit menewaskan empat orang, termasuk "seorang tentara dan seorang warga negara Suriah".
Serangan ketiga terjadi di Bint Jbeil, menewaskan "empat warga sipil, termasuk seorang anak dan seorang wanita".



