Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, mengadakan pertemuan strategis dengan Ketua Association for Saving of Underwater Cultural Heritage (ASUCH), Nikolaus Graf Sandizell. Pertemuan tersebut membahas potensi penelitian dan pencarian bangkai kapal Portugis, Flor de la Mar, yang diperkirakan tenggelam di sekitar Selat Malaka. Pencarian akan memanfaatkan teknologi penginderaan jarak jauh dan pemetaan bawah air yang akurat.
Kolaborasi Lintas Lembaga
Fadli Zon menjelaskan bahwa kapal Flor de la Mar merupakan aset sejarah maritim bernilai tinggi yang membawa muatan berharga sebelum karam. Untuk memastikan lokasi tenggelamnya, diperlukan analisis data historis dan penggunaan teknologi pemetaan bawah air. Kolaborasi ini tidak hanya melibatkan Kementerian Kebudayaan, tetapi juga Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Potensi Museum Maritim Dunia
Menurut Fadli Zon, penemuan bangkai kapal Flor de la Mar berpotensi menjadi cikal bakal museum maritim kelas dunia yang mampu menarik ribuan wisatawan mancanegara. "Saat ditampilkan di museum bertema maritim, kapal ini bisa menjadi masterpiece atau daya tarik utama wisatawan. Selain menumbuhkan ekonomi budaya setempat, juga menjadi objek edukasi sejarah maritim Indonesia," ujarnya.
Dalam upaya pelestarian cagar budaya bawah air, Kementerian Kebudayaan akan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk menyusun kajian ilmiah dan diskusi peraturan hukum tentang cagar budaya bawah air di Indonesia. Fadli Zon optimistis bangkai kapal Flor de la Mar dapat ditemukan, yang akan menjadi tonggak sejarah dan memulihkan kedaulatan negara.
Komitmen Pemulihan Cagar Budaya
Menbud menegaskan komitmen Kemenbud untuk terus melakukan pemeliharaan dan penemuan objek cagar budaya di perairan Indonesia. "Kami selalu berupaya meneguhkan kedaulatan Indonesia melalui pemulihan cagar budaya bawah air. Dengan kajian empiris dan teknologi mutakhir, penemuan bangkai kapal Flor de la Mar akan menambah khazanah peninggalan sejarah Nusantara," tutupnya.
Sementara itu, Nikolaus Graf Sandizell menyambut baik kolaborasi ini. "Kami berharap dapat melakukan pertukaran ilmu pengetahuan melalui pelatihan, pengalaman, dan pengetahuan arkeologis selama kerja sama ini," ujar Sandizell.



