Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asiki, mengungkapkan sejumlah langkah strategis yang akan diambil jika Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang tidak lagi mampu menampung sampah dari ibu kota. Dalam rapat bersama Komisi D DPRD Jakarta, Kamis (23/4/2026), Dudi menjelaskan bahwa pihaknya akan memaksimalkan pemilahan sampah sebelum dibuang ke Bantargebang serta mengoptimalkan pengoperasian RDF Rorotan.
Pemilahan Sampah Organik sebagai Prioritas
Dudi menekankan pentingnya pemilahan sampah, terutama sampah organik yang selama ini sulit dimanfaatkan. Menurutnya, dengan memilah sampah organik, sebanyak 40 persen permasalahan sampah di Jakarta dapat teratasi. Sisa sampah organik lainnya akan disalurkan ke pabrik-pabrik kompos yang membutuhkan bahan baku organik.
"Pilah sampah untuk sementara, makanya saya akselerasi untuk yang organiknya dulu. Karena organiknya nggak laku Pak, organik yang nggak laku tapi ternyata itu bisa kita kasih ke mana-mana," ujar Dudi.
Ia optimistis target pemilahan 40 persen dapat tercapai, sementara 60 persen sisanya akan diupayakan melalui kerja sama dengan pabrik kompos. "Moga-moga minimal saya kira optimisnya di 40 persen lah kita bisa selesaikan di Jakarta, mungkin 60 persennya lagi coba saya lihat ke pabrik-pabrik yang kira-kira mungkin nggak saya sarankan tertentu mereka sehingga mengambil organiknya dari kami," tambahnya.
Optimalisasi RDF Rorotan
Selain pemilahan, Dudi juga berencana mengoptimalkan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan. Saat ini, kapasitas RDF Rorotan untuk sampah segar mencapai 800 ton per hari dari total kapasitas 1.000 ton. Dudi menargetkan peningkatan kapasitas hingga 1.000 ton per hari dengan mengubah pola operasi dari 5 hari kerja menjadi 7 hari kerja dalam sepekan.
"Coba saya optimalkan RDF (Rorotan) yang ada di Rorotan itu sendiri yang sekarang itu kapasitasnya untuk yang sampah fresh-nya itu sekitar 800 Pak, dari kapasitas 1.000 coba saya optimalkan 1.000 dan coba saya ubah yang tadinya 5/7 jadi 7/7," tuturnya.
Dengan optimalisasi ini, beban pembuangan sampah ke Bantargebang diharapkan dapat berkurang signifikan. Dudi menambahkan bahwa pemilahan sampah akan membantu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir.
"Intinya minimalnya yang freshnya menjadi 1.000 ton di 7 hari per 7 hari kalau misalnya itu terbantu ya agak menolong banyak, ditambah optimalisasi menurun tadi. Kalau dipilah sampai di utara itu Pak atau bisa dilakukan mungkin kita bisa langsung Rorotan semua yang kering-keringnya," imbuhnya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mengatasi darurat sampah di Bantargebang yang hampir mencapai kapasitas maksimal. Sebelumnya, Pansus DPRD DKI juga berencana menggenjot bank sampah untuk mengurangi beban TPST Bantargebang.



