Tangan Bayi Bengkak-Berlubang Usai Diinfus, Orang Tua Laporkan RS Paramount Makassar ke Polisi
Tangan Bayi Bengkak-Berlubang Usai Diinfus, Ortu Laporkan RS

Tangan Bayi Bengkak-Berlubang Usai Diinfus, Orang Tua Laporkan RS Paramount Makassar ke Polisi

Sebuah kasus dugaan malapraktik medis mencuat di Makassar setelah orang tua bayi berinisial ASA, berusia 9 bulan, melaporkan pihak RSIA Paramount Makassar ke kepolisian. Laporan ini diajukan menyusul kondisi tangan bayi yang mengalami pembengkakan parah hingga berlubang usai menjalani prosedur infus di rumah sakit tersebut.

Langkah Hukum Dilakukan Setelah Somasi Diabaikan

Ibu korban, Nurjannah, mengungkapkan bahwa awalnya mereka telah mengirimkan somasi kepada rumah sakit, namun tidak mendapatkan respons yang memadai. Hal ini mendorong keluarga untuk mengambil langkah hukum lebih lanjut. "Iya, saya langsung melakukan ke langkah hukum dan saya sudah melapor ke Polrestabes. (Laporannya terkait) dugaan malapraktik," jelas Nurjannah, seperti dilansir dari sumber terpercaya.

Laporan resmi telah tercatat dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) dengan nomor: STPL/400/II/2026/SPKT/Polrestabes Makassar/Polda Sulsel, yang diterima pada Selasa, 17 Februari 2026. Laporan ini mengacu pada dugaan tindak pidana kejahatan tenaga kesehatan sebagaimana diatur dalam Pasal 440 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Proses Pemeriksaan dan Visum Medis Berlangsung

Nurjannah mengaku telah menjalani pemeriksaan di Polrestabes Makassar pada Kamis, 19 Februari 2026. Selanjutnya, penyidik meminta agar bayi tersebut menjalani visum medis di RS Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan bukti medis yang lebih akurat. "Perkembangannya masih menunggu hasil visum dari Rumah Sakit Bhayangkara. Kemarin (visum), pada tanggal 18 Februari. Diminta oleh penyidik polres. Nanti setelah diambil ke keteranganku, baru penyidik polres kasih pengantar untuk visum," paparnya.

Keluarga berharap kasus ini ditangani secara tuntas oleh pihak kepolisian. Mereka menekankan bahwa meskipun pembengkakan pada tangan bayi sudah mulai mereda, kondisi tersebut telah menyebabkan perubahan permanen. "Masih lubang dan bengkak sedikit, dan apalagi ini anakku sudah diukur ini (tangannya) ada yang tidak sesuai. Iya, maksudnya kayak besarnya, bentuknya. Tidak sama dengan sebelah. Iya, kayak tidak simetris lah begitu," tutur Nurjannah dengan nada prihatin.

Dampak Jangka Panjang dan Harapan Keluarga

Keluarga khawatir akan dampak jangka panjang dari insiden ini terhadap kesehatan dan perkembangan bayi mereka. Mereka mendesak agar pihak berwajib melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan akuntabilitas dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. Kasus ini menyoroti pentingnya standar keamanan dalam prosedur medis, terutama untuk pasien anak-anak yang rentan.

Dengan menunggu hasil visum dari RS Bhayangkara, proses hukum diharapkan dapat berjalan transparan dan adil. Masyarakat pun diimbau untuk tetap mengikuti perkembangan kasus ini, yang bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga