Bekasi - Tragedi kecelakaan kereta api (KA) Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur meninggalkan trauma mendalam bagi para korban. Salah seorang korban, Subur Sagita (51), warga Tambun, menceritakan detik-detik mencekam saat KRL yang ditumpanginya tertabrak.
Awal Mula Kejadian
Subur mengisahkan bahwa KRL yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti di tengah perjalanan. Ia sempat merasa heran karena peristiwa tersebut tidak biasa. Subur bersama istrinya, Yunita Endang (41), berada di gerbong ketiga dari gerbong khusus wanita yang menjadi sasaran tabrakan. Mereka berangkat dari Stasiun Kampung Bandan dan transit di Cakung dalam posisi berdiri.
Tidak lama berselang, Subur merasakan getaran aneh. Kemudian, ia melihat cahaya terang dari arah gerbong depan. "Pikir aku, 'kok ini kereta nggak jalan tapi ada getaran kan awal-awal kan'. Nah aku lihat sorot lampu, lep gitu kayak orang nyenter gimana sih," ujar Subur saat ditemui di RSUD Bekasi, Selasa (28/4/2026).
Saat Tabrakan Terjadi
Subur tidak menyangka bahwa itu adalah tabrakan kereta api. Ia hanya mendengar jeritan penumpang setelah dirinya dan banyak orang terpental akibat benturan keras. "Abis itu udah orang ngejerit semua, ya begitu ngejerit kejadian duar gitu, mental," jelas Subur.
Kepanikan seketika melanda. Penumpang yang berdiri jatuh dan terpental hingga berpindah posisi. Tubuh Subur tertindih dan terhimpit oleh penumpang lain. Dalam kondisi sulit, ia berusaha berdiri dan mencari istrinya. Saat ditemukan, Yunita dalam keadaan pingsan. "Ini ibu (istri) yang pingsan, aku masih sempat berdiri, bangun, aku cari dia. Aku seret kan dari pintu kereta biar agak ke lantai," tutur Subur.
Upaya Menyelamatkan Diri
Setelah memastikan istrinya aman, Subur berusaha mencari tempat yang lebih aman dan membantu penumpang lain untuk keluar dari gerbong. Ia melihat kaca-kaca pecah dan asap mengepul dari atap kereta. "Aku pun panik kan karena liat istri udah pingsan, kita pun walaupun pada kecelakaan harus saling bantu," katanya.
Kesaksian Yunita
Sementara itu, Yunita menceritakan bahwa ia sedang mengirim pesan singkat kepada anaknya saat kecelakaan terjadi. Ia mengaku terpental, merasakan sakit di kaki, lalu tidak sadarkan diri. "Aku sadar-sadar itu udah di lantai atas ya, udah di lantai dua stasiun, itu kondisinya memang udah pada luka-luka semua kan. Dan ini kaki saya udah nggak bisa digerakin sama sekali, ini darah mengucur dari hidung, ini sempat bengkak tadi malam baru dikompres ini kan," ungkap Yunita.
Rasa Syukur
Di tengah musibah, Yunita mengaku bersyukur masih diberi keselamatan. Ia mengungkapkan bahwa hampir naik ke gerbong wanita, tetapi ditegur suaminya untuk pindah agar bisa bersama. "Alhamdulillah saya pindah gerbong diajak suami, kalau saya sendiri mungkin akan naik di sana. Saya nggak tahu nasib saya gimana kalau di sana," kata dia.
Kecelakaan ini menjadi perhatian banyak pihak. KNKT akan melakukan investigasi, sementara Jasa Raharja memberikan jaminan kepada para korban. Tidak ada korban dari petugas KAI dalam insiden ini.



