Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) meminta agar perguruan tinggi berperan sebagai pemecah masalah (problem solver) di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan dalam sebuah forum diskusi yang dihadiri oleh para rektor dan akademisi.
Kampus sebagai Problem Solver
Menurut Wamendiktisaintek, kampus tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga harus mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Ia menekankan pentingnya riset dan inovasi yang aplikatif untuk menjawab tantangan di bidang ekonomi, sosial, dan teknologi.
“Kampus harus menjadi mitra strategis pemerintah dan industri dalam menyelesaikan masalah nyata. Jangan hanya berfokus pada teori, tetapi juga implementasi,” ujarnya.
PGRI Siapkan Guru Hadapi Tantangan
Sementara itu, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyatakan kesiapannya untuk mempersiapkan guru-guru yang adaptif terhadap perubahan. Ketua Umum PGRI mengatakan bahwa guru harus memiliki kompetensi digital dan kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi era revolusi industri 4.0.
“Kami terus melakukan pelatihan dan pengembangan kurikulum agar guru mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang inovatif,” jelasnya.
Sinergi Kampus dan PGRI
Wamendiktisaintek juga mengapresiasi langkah PGRI dalam meningkatkan kualitas guru. Ia berharap ada sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi profesi guru untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih baik.
“Kolaborasi antara kampus dan PGRI sangat penting. Kampus bisa memberikan pelatihan dan riset, sementara PGRI menyebarkan praktik baik ke seluruh Indonesia,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, beberapa rektor juga memaparkan program-program unggulan mereka yang berorientasi pada pemecahan masalah, seperti pengembangan energi terbarukan, pertanian presisi, dan kesehatan masyarakat.
Dengan adanya dorongan ini, diharapkan kampus dan guru dapat bersama-sama mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga mampu menghadapi tantangan global.



