Sapu-Sapu vs Piranha: Dua Ikan Amazon yang Berbeda Ancaman bagi Ekosistem Jakarta
Sapu-Sapu vs Piranha: Ancaman Berbeda untuk Ekosistem Jakarta

Sapu-Sapu vs Piranha: Dua Ikan Amazon yang Berbeda Ancaman bagi Ekosistem Jakarta

Fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah aliran sungai di Jakarta telah menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir. Video dan foto yang menunjukkan ikan berwarna gelap ini memenuhi dasar sungai telah viral di media sosial, memicu kekhawatiran warga akan dominasi spesies asing ini terhadap ikan lokal.

Perbedaan Karakter dan Dampak Ekologis

Meski sama-sama berasal dari perairan Amazon di Amerika Selatan, ikan sapu-sapu dan piranha memiliki karakteristik yang sangat kontras. Ikan sapu-sapu dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan bertahan hidup yang luar biasa di lingkungan ekstrem, termasuk air yang tercemar. Kemampuan adaptasinya yang tinggi memungkinkan populasinya berkembang pesat di perairan seperti Sungai Ciliwung, Kali Pesanggrahan, dan Kali Angke.

Selain itu, ikan sapu-sapu memiliki kebiasaan menggali lubang di tebing sungai untuk berkembang biak. Aktivitas ini dapat mempercepat erosi bantaran sungai dan meningkatkan risiko longsor. Meski tidak berbahaya secara langsung bagi manusia, keberadaan ikan sapu-sapu menimbulkan masalah serius bagi ekosistem. Ikan ini bersaing ketat dengan ikan lokal dalam mencari makanan dan mengganggu rantai makanan alami di sungai, yang berakibat pada penurunan jumlah ikan asli.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sebaliknya, ikan piranha dikenal sebagai predator ganas dengan gigi tajam dan kebiasaan berburu secara berkelompok. Di habitat aslinya, piranha berada di puncak rantai makanan dan memangsa ikan lain serta hewan kecil yang masuk ke air. Namun, ancaman piranha di perairan Indonesia relatif kecil karena ikan ini jarang ditemukan dan membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk bertahan hidup, sehingga populasinya tidak mudah berkembang seperti sapu-sapu.

Operasi Pembersihan oleh Pemerintah DKI Jakarta

Menanggapi masalah ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung telah memerintahkan perluasan operasi pembersihan ikan sapu-sapu ke seluruh wilayah ibu kota. "Saya akan meminta tidak hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi," kata Pramono di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Pada Jumat 10 April 2026, Pemerintah Kota Jakarta Pusat berkolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melaksanakan kerja bakti penangkapan ikan sapu-sapu di Kali Cideng, depan Plaza Indonesia. Pramono menegaskan bahwa ledakan populasi ikan sapu-sapu telah menyebabkan kerusakan tanggul lingkungan dan mengancam kelestarian ekosistem perairan lokal.

Pengalaman Petugas di Lapangan

Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) turun langsung membasmi ikan sapu-sapu, termasuk di kawasan sekitar Bundaran HI. Junaedi (33), salah satu petugas PPSU Gondangdia, mengungkapkan bahwa dalam waktu sekitar satu setengah jam, petugas berhasil mengumpulkan lebih dari 80 ekor ikan sapu-sapu yang memenuhi enam karung.

"Dari 8.30 dibersihinnya sampai jam 10 tadi. Sekitar 80 ekor mah lebih kali, sampai 6 karung soalnya. Itu aja enggak ketangkap semua, susah soalnya pada ngumpet di batu-batu, airnya jadi keruh juga gara-gara banyak orang," ujar Junaedi. Setelah ditangkap, ikan sapu-sapu dimatikan dengan cara dibanting dan dipukul sebelum dimasukkan ke dalam karung sebagai bagian dari upaya pengendalian populasi.

Junaedi menilai kegiatan pembasmian ini positif karena memberikan pengalaman berbeda bagi petugas PPSU yang biasanya hanya bertugas membersihkan jalan. Aktivitas ini juga menarik perhatian warga, terutama pada akhir pekan ketika banyak orang datang untuk memancing atau melihat kondisi sungai.

Jalur Masuk dan Tantangan ke Depan

Kedua ikan ini masuk ke Indonesia melalui jalur berbeda, umumnya dari perdagangan ikan hias atau pelepasan oleh pemilik yang tidak lagi memeliharanya. Masuknya spesies asing seperti sapu-sapu menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem sungai di Indonesia karena tidak adanya predator alami yang dapat mengontrol populasinya.

Kondisi ini berbeda dengan piranha yang, meski berbahaya, populasinya lebih sulit berkembang di luar habitat aslinya. Oleh karena itu, ancaman utama bagi ekosistem perairan Jakarta saat ini justru datang dari ikan sapu-sapu yang terus berkembang biak dengan cepat dan mengganggu keseimbangan alam.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga