Basarnas: Korban Terjepit KRL Masih Bisa Diajak Bicara, Evakuasi 60 Persen
Basarnas: Korban Terjepit KRL Masih Bisa Diajak Bicara

Kepala Basarnas M Syafii memberikan keterangan terbaru mengenai kondisi para korban yang terjepit di dalam gerbong KRL setelah insiden tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi. Dalam pernyataannya, Syafii mengungkapkan bahwa sejumlah korban wanita yang terjepit masih dalam keadaan sadar dan dapat diajak berkomunikasi.

Kondisi Korban Masih Bisa Berkomunikasi

Syafii menyatakan bahwa para korban masih bisa diajak bicara meskipun dalam kondisi terjepit. "Masih bisa (bicara)," ujarnya di lokasi kejadian pada Selasa, 28 April 2026. Ia menambahkan bahwa tim medis terus memberikan penanganan selama proses evakuasi berlangsung. Korban mengalami kondisi terjepit di bagian kaki, sehingga rasa sakit yang dialami cukup intens. "Sekarang dalam penanganan medis sehingga mereka mengalami rasa sakit yang berlebihan langsung ditangani secara medis, karena memang kondisi khususnya kaki dalam kondisi terjepit," jelas Syafii.

Progres Evakuasi Mencapai 60 Persen

Proses evakuasi telah berlangsung sekitar enam jam. Syafii mengungkapkan bahwa kendala utama yang dihadapi adalah kekuatan logam antara dua kereta yang memerlukan penanganan khusus. "Dengan peralatan normal tak mungkin kita lakukan, sehingga kita membutuhkan alat khusus yang biasa digunakan dalam logam khususnya yang ada di material gerbong," ucapnya. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa penanganan sudah berjalan 60 persen.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Keterbatasan Ruang Gerak Tim Evakuasi

Kendala lainnya adalah keterbatasan ruang di dalam gerbong. Tim evakuasi hanya bisa bekerja maksimal 25 orang di dalam gerbong karena volume yang terbatas dan tercampur dengan material lokomotif serta gerbong. "Space untuk melakukan tindakan jadi kita melakukan tindakan dari luar juga ada kesulitan tersendiri kemudian dari dalam volume gerbong itu juga terbatas sehingga di dalam tak lebih 25 orang dan itu tercampur material lokomotif dan gerbong," paparnya.

Pergeseran Gerbong Dihindari Demi Keselamatan Korban

Syafii menegaskan bahwa pihaknya tidak akan melakukan pergeseran gerbong selama proses evakuasi karena masih ada korban yang masih hidup dan bisa diajak berkomunikasi. "Kita tak akan melakukan pergeseran karena masih ada korban yang masih bisa kita ajak komunikasi dalam kondisi hidup, karena tak kepingin ada pergerakan sehingga memperburuk kondisi korban, karena itu kita pastikan laksanakan sampai bisa memisahkan badan korban dengan material yang menghimpit," tegasnya.

Hingga saat ini, sebanyak 71 korban tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur telah dievakuasi ke rumah sakit. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan evakuasi masih terus diupdate oleh Basarnas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga