Singapura Belajar Metode Pembinaan Napi Berbasis Budaya dari Indonesia
Singapura mengaku mendapatkan pelajaran berharga dari Indonesia mengenai pembinaan narapidana melalui pendekatan budaya. Apresiasi tinggi diberikan terhadap metode yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kunjungan Delegasi ke Lembaga Pemasyarakatan
Perwakilan Singapore Prison Service, Ayyub, menyampaikan hal ini pada The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 di Bali. Kunjungan dilakukan ke Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Kelas IIA Bangli dan Griya Abhipraya Dharma Laksana di Karangasem.
"Saya sangat mengapresiasi kunjungan ini. Ini menjadi pelajaran penting bagi kami tentang bagaimana menggabungkan nilai budaya dalam proses pembinaan dan pembimbingan," ujar Ayyub.
Fasilitas dan Kegiatan yang Dijelajahi
Delegasi dari berbagai negara peserta WCPP 2026 menyaksikan langsung fasilitas dan aktivitas narapidana. Mereka mengunjungi:
- Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE)
- Layanan kesehatan
- Unit kegiatan kerja produktif
Di Griya Abhipraya Dharma, para napi dibimbing dengan pendekatan gabungan pelatihan vokasional dan nilai-nilai budaya lokal, bekerja sama dengan Yayasan Pesraman Guru Kula.
Pendekatan Budaya sebagai Kunci Pemulihan
Kepala Balai Pemasyarakatan Karangasem, Kornelis Keli, menjelaskan bahwa Griya Abhipraya berfungsi sebagai rumah harapan untuk pemulihan sebelum reintegrasi ke masyarakat. "Kami membimbing melalui pelatihan vokasional yang berpadu dengan budaya lokal," tegasnya.
Menurut Kornelis, pendekatan kultural tidak hanya fokus pada keterampilan, tetapi juga pada penguatan identitas dan penerimaan sosial. "Di tengah tantangan global terkait overkapasitas dan residivisme, pendekatan berbasis budaya dinilai mampu menjadi jawaban yang lebih berkelanjutan dan menyentuh akar persoalan," tambahnya.
Gambaran Utuh Sistem Pembinaan
Para delegasi memperoleh pemahaman komprehensif tentang sistem pembinaan narapidana di Indonesia. Proses ini mencakup pelatihan keterampilan, layanan kesehatan, dan reintegrasi sosial yang mengakar pada budaya lokal, menawarkan model yang bisa diadopsi secara internasional.



