Ketua Umum TP PKK Kunjungi Belu NTT, Serukan Perlindungan Perempuan dan Anak dari Kekerasan
Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Tri Tito Karnavian mendorong upaya perlindungan perempuan dan anak dari berbagai bentuk kekerasan. Dalam kunjungannya ke Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tri menyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual sering kali dilakukan oleh pihak yang merasa superior, seperti laki-laki atau kepala rumah tangga.
Angka Kekerasan yang Mengkhawatirkan
Tri mengungkapkan keprihatinannya terhadap tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan eksploitasi anak, yang menurutnya merupakan masalah global. "Angka kekerasan dalam rumah tangga ataupun pelecehan terhadap perempuan dan eksploitasi terhadap anak ini luar biasa. Ini tidak hanya terjadi di sini, seluruh dunia ada tentang gangguan seperti ini," tegas Tri dalam keterangan tertulis pada Minggu (19/4/2026).
Ia menekankan bahwa pencegahan KDRT serta pelecehan seksual, baik verbal maupun fisik, sangat diperlukan. "Tapi kita berdiri di lingkungan kita, ini juga harus bersama-sama (mencegahnya)," tambahnya.
Sosialisasi dan Pelatihan di Belu
Pernyataan tersebut disampaikan Tri saat menghadiri Temu Kader PKK Kabupaten Belu bersama Ibu Ketum TP PKK. Kegiatan ini merupakan bagian dari "Sosialisasi Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak dari Tindakan Kekerasan Fisik dan Verbal" serta "Pelatihan Pembuatan dan Pengelolaan Hasil Minyak Kemiri".
Acara berlangsung di Gedung Wanita Betelalenok, Kabupaten Belu, NTT, pada Kamis (16/4). Turut hadir dalam kegiatan tersebut:
- Bupati Belu Willybrodus Lay
- Ketua TP PKK Kabupaten Belu Lidwina Viviawaty Ng Lay
- Jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
- Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Belu
Pendidikan Kesetaraan Gender Sejak Dini
Dalam konteks pencegahan kekerasan, Tri mendorong orang tua untuk mendidik anak laki-laki agar tidak merasa superior. Menurutnya, anak laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum dan tidak seharusnya diajarkan untuk merasa lebih tinggi.
"Anak laki-laki kita juga sama sebetulnya dengan anak perempuan kita. Harus dididik sama," ujar Tri.
Di sisi lain, Tri juga menekankan bahwa anak perempuan tidak boleh ditekan untuk menerima keadaan. Mereka perlu dididik untuk berani mengatakan tidak terhadap hal-hal yang melanggar batas mereka, serta didorong untuk memperjuangkan hak-haknya.
"Dididik untuk memperjuangkan hak-hak mereka, merasa aman di dalam rumahnya, merasa aman di lingkungannya, dan juga merasa bahwa mereka mempunyai kesempatan yang sama dalam segala hal," jelas Tri.
Dukungan untuk Indonesia Emas 2045
Tri menegaskan bahwa pendidikan yang baik bagi anak-anak di Kabupaten Belu akan mendukung program Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang saat ini masih bersekolah, khususnya di jenjang SMP dan SMA, diharapkan menjadi pemimpin yang mampu memajukan daerah.
Terlebih, Kabupaten Belu merupakan garda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berbatasan dengan Timor Leste. "Saya berkewajiban juga untuk hadir di sini, karena memberikan semangat kepada semua kader PKK untuk bekerja keras, menjadikan Kabupaten Belu, menyiapkan anak-anak kita sumber daya manusia yang akan terus meneruskan kelangsungan negara Republik Indonesia ini, terutama di perbatasan," kata Tri.
Dengan adanya sosialisasi dan pelatihan ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Belu akan pentingnya perlindungan perempuan dan anak, serta menciptakan lingkungan yang aman dan setara bagi semua.



